Senin, 14 Maret 2011

menelaah sifat manusia

Menelaah Sifat Manusia


Untuk menelaah sifat masyarakat kali ini, maka saya akan membahas mengenai masyarakat Tionghoa yang banyak terdapat di daerah Singkawang. Awal mulanya sebelum menggunakan istilah Tionghoa pertengahan abad ke-19 masyarakat lebih popular menggunakan kata “Cina”. Kemudian istilah Tionghoa muncul dalam periode antara kedua perang dunia. Tionghoa awalnya merupakan istilah yang dibuat oleh penduduk Indonesia yang berasal dari Tiongkok. Istilah Tionghoa dan Tiongkok itu sendiri lahir dari lafal Melayu. Tionghoa merupakan dialek Xiamen atau biasa disebut dialek Amoi.

Awalnya kedatangan orang Tionghoa pertama kali di Nusantara sebenarnya tidak jelas. Yang kemudian pada abad ke-7 hubungan Tiongkok dengan Kalimantan Barat mulai sering terjadi (tetapi belum menetap). Pada saat adanya kongsi politik baru imigran dari Cina masuk ke Kerajaan Sambas dan mempawah. Pasukan Khubilai Khan pun di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi dan Khau Sing dalam perjalanannya untuk menghukum Kertanegara akhirnya singgah di kepulauan Karimata yang terletak berhadapan dengan Kerajaan Tanjungpura. Karena kekalahan pasukan ini dari angkatan perang Jawa dan takut mendapat hukuman dari Khubilai Khan, kemungkinan besar beberapa dari mereka melarikan diri dan menetap di Kalimantan Barat. Kembali lagi tahun 1921-1929 terjadi imigran besar-besaran orang Cina ke daerah Semenanjung Malaya, Serawak dan Kalimantan Barat karena terjadi perang saudara.

Daerah asal yang terkonsentrasi di pesisir tenggara Tiongkok memang telah menjadi bandar perdagangan yang ramai. Quanzhou tercatat sebagai bandar pelabuhan terbesar dan tersibuk di dunia pada zaman tersebut. Sehingga ramainya interaksi perdagangan di daerah pesisir tenggara ini kemudian menyebabkan banyak sekali orang-orang Tionghoa juga merasa perlu keluar berlayar untuk berdagang. Tujuan utama pada saat itu adalah Asia Tenggara, oleh karena itu pelayaran sangat tergantung pada angin musim. Maka pada setiap tahunnya, para pedagang Tionghoa akan bermukim di wilayah-wilayah Asia Tenggara yang disinggahi mereka.

Sehingga dengan demikian seterusnya adanya pedagang yang memutuskan untuk menetap dan menikahi wanita setempat, ada pula pedagang yang pulang ke Tiongkok untuk terus berdagang.
Sebagian besar dari orang-orang Tionghoa di Indonesia menetap di pulau Jawa. Daerah-daerah lain di mana mereka juga menetap dalam jumlah besar selain di daerah perkotaan : Sumatra Utara, Bangka-Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Lombok, Kalimantan Barat, Banjarmasin dan beberapa tempat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, yang kemudian desa Singkawang sering digunakan sebagai tempat singgahnya para pedagang penambang emas yang kebanyakan dari China. Selain itu Singkawang juga digunakan sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas). Pada saat itu orang Tionghoa menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka), sebab mereka berasumsi dari sisi geografis Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Mulai dari sini melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.

Saat ini Singkawang terkenal sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalimantan Barat setelah Kota Pontianak. Letaknya di pantai barat sangat strategis, yakni berada di antara kabupaten Sambas dan Bengkayang, hal ini sangat menguntungkan Singkawang dalam mengembangkan daerahnya sebagai sentra bisnis dan pemasaran produk dari dan ke wilayah di sekitarnya. Selain itu juga menampung dan mendistribusikan barang-barang yang tidak diproduksi di Singkawang dan daerah sekitarnya, seperti barang-barang sandang, alat-alat pertanian dan lainnya. Sebagian besar barang yang diperdagangkan merupakan hasil bumi, seperti produk pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan hasil kerajinan atau industri kecil di Singkawang dan kabupaten tetangga.

Singkawang juga merupakan wilayah yang cocok untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan hortikultura terdapat di Kecamatan Singkawang Selatan, Utara dan Timur. Wilayah ini memiliki potensi yang cukup besar, baik dari segi lahan yang tersedia maupun jenis tanaman yang sesuai untuk dikembangkan. Lahan yang luas dan tanah yang subur merupakan faktor yang sangat mendukung bagi pengembangan agroindustri. Tanaman jagung, misalnya, banyak diusahakan di Singkawang Selatan dan Timur. Kebutuhan jagung untuk pakan ternak-sebagian besar untuk ayam ras petelur di Singkawang sangat besar. Hasil pertanian itu selain dijual dalam bentuk buah segar, juga mulai diolah. Contohnya Jeruk siam dan nanas, dapat dibuat sari jeruk, minuman ringan dan nanas dalam kaleng. Demikian pula pisang, dipasarkan dalam bentuk tepung pisang, pisang selai dan keripik pisang. Usaha industri ini mulai berkembang walau masih dalam skala industri kecil. Industri secara umum banyak terdapat di Singkawang Barat, berupa industri pengolahan bahan makanan dan minuman ringan. Ada juga industri furnitur dari kayu yang bahan baku serta pemasarannya bersifat local serta hasil peternakan, terutama ayam petelur dan babi.

Hasil industri yang merupakan produk andalannya adalah keramik. Industri ini telah lama berkembang dan pasarannya pun merambah ke mancanegara meskipun masih berskala industri kecil. Ada delapan unit usaha yang bergerak di bidang usaha keramik dan dikelola turun-temurun. Pembuatan keramik tradisional itu terdapat di Desa Sakok, Kelurahan Sedau, Singkawang Selatan. Buatannya sangat menarik dan artistik bergaya Dinasti Ming. Ciri khasnya terletak pada desain yang berupa gambar naga. Keramik ini telah memenuhi pasaran ekspor ke Singapura, Malaysia dan negara lainnya.

Sebagaimana yang telah diungkapkan dan dijelaskan diatas masyarakat Tionghoa datang bersama dengan perdagangan, yang kemudian menikah dengan penduduk. Oleh karena itu, dilihat dari segi geografis serta mata pencaharian yang sebagian besar berawal dari perdagangan dapat diungkapkan bahwa masyarakat Singkawang senang dan pandai dalam hal berbicara. Yang membawa dampak pula sehingga masyarakat daerah Singkawang pandai sekali melakukan politik. Bahkan terdapat sebutan bahwa keistimewaan terhadap penduduk Singkawang, mulutnya lebih cepat bekerja daripada otaknya.






















Daftar Pustaka


• http://ace-informasibudaya.blogspot.com/2010/05/sekilas-kedatangan-orang-tionghoa-di.html

• http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Singkawang

• http://cintasingkawang.com/entnografi.htm